📰 Artikel

Clayface Bawa Horor ke Gotham, Bukan Film Jagoan Biasa

24 Oct 2026 · oleh Anindya Prameswari
Clayface Bawa Horor ke Gotham, Bukan Film Jagoan Biasa

Biasanya, mendapatkan kemampuan luar biasa menjadi awal perjalanan seseorang untuk menyelamatkan dunia. Dalam Clayface, keadaan justru bergerak ke arah sebaliknya. Kesempatan memperbaiki wajah yang rusak perlahan berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang aktor mulai kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Film garapan James Watkins ini membuka penayangan Amerika Utara pada 23 Oktober 2026, setelah perilisan internasional dimulai pada 21 Oktober. Alih-alih menawarkan petualangan superhero yang ringan, DC Studios memperkenalkannya sebagai horor thriller tentang identitas, ambisi, dan balas dendam.

Yang membuatnya menarik bukan sekadar perubahan tubuh sang tokoh utama. Ceritanya berangkat dari seseorang yang takut kehilangan kehidupan yang sudah dibangun, lalu mengambil keputusan berbahaya untuk mendapatkannya kembali. Dari sana, kemampuan yang terlihat seperti penyelamatan justru membuka masalah yang lebih besar.

Ketika Wajah Menjadi Bagian dari Seluruh Kehidupan

Tom Rhys Harries memerankan Matt Hagen, pemuda dari Gotham yang berhasil menembus dunia akting Hollywood. Kariernya sedang naik ketika tindakan seorang bos kriminal membuat wajahnya rusak parah. Orang-orang yang sebelumnya berada di sekitarnya kemudian meninggalkan Matt dalam keadaan yang sangat berbeda.

Menurut sinopsis resmi DC, Matt mencari pengobatan mutakhir yang mampu mengembalikan penampilannya. Hasil awalnya terlihat menjanjikan, tetapi prosedur tersebut juga memengaruhi hubungannya dengan kenyataan dan menyeretnya menuju pembalasan yang semakin merusak.

Premis itu membuat perubahan fisiknya terasa personal. Matt bukan sekadar memperoleh kekuatan aneh, melainkan mempertaruhkan sesuatu yang selama ini berhubungan erat dengan pekerjaan dan cara orang memperlakukannya. Keinginan kembali menjadi diri sendiri justru membawanya semakin jauh dari orang yang dahulu ia kenal.

Horornya Datang dari Tubuh yang Tidak Lagi Bisa Dipercaya

Clayface menggunakan pendekatan body horror, yaitu horor yang menempatkan perubahan atau kerusakan tubuh sebagai sumber ketakutan. Dalam wawancara AFP, Watkins menghubungkan pendekatan tersebut dengan kecemasan manusia terhadap hal-hal yang bisa terjadi pada tubuhnya sendiri.

Ia tidak hanya ingin membuat penonton terkejut karena suara keras atau sesuatu yang mendadak muncul. Yang dicarinya adalah rasa tidak nyaman yang bertahan, terutama ketika penonton menyadari bahwa tokoh di layar tidak bisa begitu saja meninggalkan sumber ancamannya.

Perbedaannya cukup jelas. Kalau bahaya berada di luar rumah, seseorang masih bisa mencoba bersembunyi atau melarikan diri. Ketika masalahnya justru berada dalam tubuh sendiri, pilihan tersebut tidak lagi sesederhana itu. Gagasan inilah yang membuat Clayface mempunyai dasar menarik untuk dibawa ke wilayah horor.

Banyak Transformasinya Dibuat Langsung di Lokasi Syuting

Dalam wawancara SWAGGER yang terbit pada 22 Oktober, Watkins menjelaskan bahwa timnya menggunakan efek praktis dan riasan prostetik setiap kali memungkinkan. Prostetik merupakan bagian tambahan yang dipasang pada wajah atau tubuh pemain untuk membentuk penampilan tertentu.

Efek digital tetap digunakan, tetapi bukan satu-satunya alat. Watkins menyukai keberadaan benda nyata di depan kamera karena pemain dapat langsung meresponsnya. Mereka tidak harus selalu membayangkan sesuatu yang baru akan ditambahkan setelah pengambilan gambar selesai.

Harries sendiri menjalani proses pengenalan secara bertahap sebelum memakai riasan yang lebih rumit. Pendekatan itu menjadi bagian dari persiapan penampilannya, sebab wajah yang berubah juga memengaruhi cara ekspresi terlihat di kamera.

Ini membuat pekerjaan aktornya lebih rumit daripada sekadar menunggu tim rias selesai. Di balik lapisan tambahan tersebut, emosi Matt tetap harus terbaca. Penonton perlu melihat ketakutan dan keputusasaannya, bukan hanya memperhatikan bentuk makhluk yang muncul.

Tim Efek Memakai Cara Lama untuk Membuat Detail Terasa Nyata

Dalam wawancara Dread Central, Watkins menceritakan penggunaan model berukuran besar untuk merekam detail tertentu. Tim efek membuat bagian mata dan alat pendukung dalam skala besar agar kamera dapat menangkap perubahan fisik dari jarak dekat.

Tanpa membongkar adegannya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa efek mengganggu tidak selalu harus dibuat seluruhnya melalui komputer. Bahan, pencahayaan, sudut kamera, dan gerakan yang tepat bisa bekerja bersama untuk membuat sesuatu terasa hidup.

Latar tempat juga ikut membantu. Watkins menjelaskan kepada AFP bahwa beberapa pengambilan gambar dilakukan di Liverpool, dengan cuaca dan suasana kotanya dimanfaatkan untuk membangun Gotham. Ia melihat lingkungan nyata sebagai sesuatu yang memberi perasaan berbeda dibandingkan seluruh adegan yang dibuat di dalam studio.

Tidak Harus Menghafal Seluruh Dunia DC

Peter Safran menjelaskan kepada Associated Press bahwa Clayface sejak awal tidak dirancang sebagai film superhero konvensional. Ceritanya berpusat pada karakter, dengan mitologi DC sebagai bagian dari dunia yang menaunginya. Watkins juga menyebut penonton tidak perlu sudah mengenal Clayface untuk mengikuti film ini.

Artinya, daya tarik utamanya tidak bergantung pada kemampuan mengenali setiap referensi. Hubungan Matt dengan ilmuwan Caitlyn Corr, yang diperankan Naomi Ackie, menjadi bagian penting dalam perjalanan karakternya.

Untuk penonton baru, pendekatan itu memberi pintu masuk yang lebih sederhana. Kita bisa mengikuti seseorang yang sedang menghadapi kehilangan dan mengambil keputusan buruk, tanpa harus terlebih dahulu menyelesaikan daftar panjang film lain.

Mike Flanagan dan Hossein Amini Menangani Skenario

Watkins menyutradarai film dari skenario Mike Flanagan dan Hossein Amini, berdasarkan cerita Flanagan. Selain Harries dan Ackie, jajaran pemerannya mencakup David Dencik, Max Minghella, Eddie Marsan, Nancy Carroll, dan Joshua James.

Matt Reeves, Lynn Harris, James Gunn, serta Peter Safran menjadi produser. Susunan tersebut memperlihatkan bahwa film ini tetap berada dalam pengembangan DC Studios, tetapi pilihan genrenya memberi ruang untuk pengalaman yang berbeda dari aksi superhero biasa.

Watkins sendiri menegaskan dalam wawancara Dread Central bahwa ia ingin filmnya benar-benar memenuhi janji sebagai horor. Jadi, keberadaan karakter dari komik tidak sebaiknya dijadikan alasan untuk menganggapnya sebagai tontonan keluarga.

Respons Awal Menyukai Eksperimennya, tetapi Tetap Menyisakan Kritik

Ulasan San Francisco Chronicle menilai Clayface sebagai perubahan menarik dari pola film komik yang lebih umum. Media tersebut menyoroti penampilan Harries dan cerita monster yang masih menyisakan simpati terhadap tokohnya, meskipun pelaksanaan horornya dinilai belum selalu sekuat pengaruh yang ingin diikuti.

Tom’s Guide juga mengapresiasi perubahan tubuh dan penggunaan efek praktisnya, tetapi menginginkan eksplorasi psikologis yang lebih dalam. Dua tanggapan itu memperlihatkan bahwa ide yang berani belum otomatis membuat semua bagiannya berhasil dengan ukuran yang sama.

Penilaian tersebut berasal dari kritikus, bukan pengalaman menonton pribadi dalam tulisan ini. Setidaknya, keduanya memberi gambaran bahwa daya tarik Clayface berada pada horor fisik dan tragedi tokohnya, bukan semata-mata hubungan dengan dunia superhero.

Bagaimana Menontonnya di Indonesia?

CGV Indonesia memasukkan Clayface dalam daftar film Hollywood untuk Oktober 2026. Jadwal di setiap lokasi tetap perlu diperiksa melalui aplikasi atau situs bioskop, karena pilihan layar dan jam pertunjukan tidak selalu sama.

Untuk streaming, belum ada tanggal resmi Indonesia yang dapat dipastikan dari sumber yang diperiksa. Perkiraan waktu masuk layanan digital yang beredar tidak boleh dianggap sebagai jadwal final. Saat ini, informasi yang sudah jelas masih berpusat pada penayangan bioskop.

Clayface menawarkan sudut yang berbeda: bukan tentang seseorang yang akhirnya nyaman dengan kekuatannya, melainkan orang yang semakin tidak mengenali dirinya sendiri. Bagi penggemar horor, pertanyaan paling menarik bukan seberapa besar kekuatannya, tetapi berapa banyak bagian kemanusiaannya yang masih bisa dipertahankan.

← Semua berita