📰 Artikel

Sense and Sensibility Baru, Bukan Cuma Soal Jatuh Cinta

17 Oct 2026 · oleh Anindya Prameswari
Sense and Sensibility Baru, Bukan Cuma Soal Jatuh Cinta

Punya saudara yang sangat berbeda cara berpikirnya bisa terasa melelahkan. Yang satu ingin mempertimbangkan semuanya, yang lain merasa hidup terlalu singkat untuk terus menahan perasaan. Namun, ketika keadaan keluarga mendadak berantakan, justru orang yang paling sering membuat kita kesal itu bisa menjadi tempat pulang yang paling dekat.

Hubungan seperti itulah yang menjadi pusat Sense and Sensibility versi terbaru. Dibintangi Daisy Edgar-Jones dan Esmé Creed-Miles, adaptasi novel Jane Austen ini mulai tayang di bioskop Amerika Serikat pada 16 Oktober 2026. Georgia Oakley mengarahkan filmnya dari skenario Diana Reid, dengan perhatian besar pada hubungan dua saudari Dashwood.

Romansa tetap menjadi bagian cerita, tetapi bukan satu-satunya hal yang ingin ditonjolkan. Dari wawancara para pemain dan tim kreatifnya, film ini juga membahas bagaimana dua orang yang saling menyayangi bisa terus salah memahami satu sama lain. Cinta mereka tidak hilang, hanya sering muncul dalam bentuk yang berbeda.

Kehilangan Ayah, Rumah, dan Kehidupan yang Sudah Dikenal

Cerita mengikuti Elinor dan Marianne Dashwood setelah kematian ayah mereka mengubah keadaan keluarga. Kehidupan yang sebelumnya terasa aman tidak lagi bisa dipertahankan. Bersama ibu dan adik mereka, keduanya harus meninggalkan rumah lama dan menyesuaikan diri dengan keadaan keuangan yang lebih terbatas.

Perubahan itu membuat urusan percintaan tidak pernah benar-benar terpisah dari persoalan hidup sehari-hari. Ada masa depan yang harus dipikirkan, keluarga yang perlu dijaga, dan kebiasaan lama yang tidak bisa diteruskan begitu saja. Perasaan pribadi akhirnya bertemu dengan kebutuhan yang lebih mendesak.

Konfliknya terasa dekat karena tidak semua orang menghadapi kehilangan dengan cara yang sama. Ada yang memilih terlihat tenang agar orang lain tidak ikut khawatir. Ada pula yang tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya. Dua reaksi tersebut bisa saling berbenturan, meskipun sumber lukanya sebenarnya sama.

Elinor Tidak Selalu Benar, Marianne Tidak Selalu Salah

Daisy Edgar-Jones memerankan Elinor, sedangkan Esmé Creed-Miles menjadi Marianne. Dalam wawancara Reuters saat pemutaran perdana pada September, Oakley menjelaskan bahwa ia ingin hubungan mereka berjalan dua arah. Marianne bukan satu-satunya yang harus belajar; Elinor juga perlu berubah melalui kedekatan dengan adiknya.

Pendekatan itu membuat perbedaan karakter mereka lebih menarik daripada pembagian sederhana antara orang yang masuk akal dan orang yang terlalu emosional. Menahan perasaan bisa membantu seseorang menghadapi masalah, tetapi bisa pula membuat orang terdekat tidak tahu bahwa ia sedang kesulitan.

Sebaliknya, keterbukaan Marianne mempunyai risikonya sendiri. Mengikuti perasaan tidak selalu menghasilkan keputusan yang baik, tetapi kejujuran semacam itu juga bisa memperlihatkan hal yang selama ini dihindari Elinor. Hubungan mereka menjadi ruang untuk saling mengoreksi, bukan pertandingan mencari siapa yang paling benar.

Kedekatan Dua Pemerannya Sudah Terbentuk Sebelum Film Ini

Dalam wawancara Associated Press, Edgar-Jones dan Creed-Miles membicarakan pengalaman mereka bekerja bersama sebelum Sense and Sensibility. Kedekatan tersebut membantu membangun hubungan yang dibutuhkan untuk memainkan dua saudari. Oakley pun menempatkan kecocokan keduanya sebagai bagian penting dalam pemilihan pemeran.

Untuk cerita seperti ini, adegan besar saja tidak cukup. Rasa sebagai saudara juga perlu muncul lewat hal kecil: cara menyela pembicaraan, membaca perubahan ekspresi, atau merasa berhak ikut campur karena menganggap diri paling memahami orang tersebut. Kedekatan pemain memberi bahan untuk membangun detail semacam itu.

Kostumnya Tidak Dibuat Selalu Rapi dan Sempurna

Pilihan visual filmnya ikut mendukung keadaan keluarga Dashwood. Dalam wawancara The Zoe Report yang terbit pada pekan perilisan, perancang kostum Grace Snell menjelaskan arahan untuk menjauh dari gambaran drama kostum yang selalu terlihat bersih dan tertata. Rambut yang sedikit berantakan serta pakaian yang tidak sepenuhnya rapi menjadi bagian dari pendekatan tersebut.

Snell juga membicarakan kesulitan mencari rujukan pakaian masyarakat yang tidak kaya. Banyak busana lama yang bertahan justru berasal dari keluarga berada, sedangkan pakaian sehari-hari orang biasa dipakai sampai rusak. Tantangannya adalah menghadirkan kehidupan yang terasa benar-benar dijalani, bukan sekadar dipamerkan.

Dalam wawancara lain dengan Vogue, ia menjelaskan penggunaan tekstil lama, pewarna alami, dan perubahan warna pakaian mengikuti perjalanan keluarga. Kebiasaan berbagi pakaian juga dipakai untuk memperkuat hubungan kakak-adik. Dengan begitu, kostum ikut bercerita tentang kedekatan dan keterbatasan mereka.

Rumah Baru Juga Membawa Perasaan yang Berbeda

Perancang produksi Francesca Di Mottola menjelaskan kepada Better Homes & Gardens bahwa rumah dan lanskap dipakai untuk mengikuti perubahan emosi keluarga. Dinding yang mulai mengelupas, ukuran perabot, serta hubungan ruangan dengan alam menjadi bagian dari desainnya. Tempat tinggal bukan hanya latar untuk percakapan.

Gagasan tersebut cocok dengan cerita tentang kehilangan rasa aman. Dua rumah bisa sama-sama mempunyai kamar dan ruang makan, tetapi belum tentu memberikan perasaan yang sama kepada penghuninya. Ketika hidup berubah, benda-benda biasa pun bisa mengingatkan seseorang pada sesuatu yang tidak lagi ia miliki.

Romansa Tetap Ada, tetapi Keluarga Tidak Ditinggalkan

Selain dua pemeran utamanya, film ini dibintangi Caitríona Balfe, George MacKay, Frank Dillane, dan Fiona Shaw. Balfe memainkan ibu keluarga Dashwood, sementara MacKay dan Dillane menjadi bagian dari hubungan romantis yang memengaruhi kehidupan kedua saudari.

Namun, perhatian terhadap keluarga tidak berarti cerita cintanya dibuang. Justru keduanya saling berhubungan: keputusan seseorang dalam percintaan dapat mengubah suasana rumah, sedangkan tekanan keluarga bisa memengaruhi seberapa berani ia menyampaikan perasaan.

Buat penonton yang menyukai romansa dengan banyak hal yang tidak langsung diucapkan, premis tersebut memberi ruang menarik. Ketegangan bisa lahir dari percakapan yang tertahan atau pertemuan yang berjalan canggung, tanpa harus selalu mengandalkan konflik besar.

Ulasan Awal Menyoroti Hubungan Kedua Saudari

Dalam ulasannya, Associated Press memberi film ini tiga dari empat bintang dan menyoroti kuatnya hubungan kakak-adik. Penilaian tersebut merupakan pandangan kritikus, bukan kesimpulan bahwa seluruh penonton akan memberi respons yang sama.

Setidaknya, ulasan itu menunjukkan bahwa perhatian Oakley terhadap keluarga memang menjadi bagian yang terlihat dalam filmnya. Bagi penonton baru, pendekatan tersebut bisa menjadi pintu masuk tanpa harus lebih dahulu mengenal semua adaptasi Sense and Sensibility yang pernah dibuat.

Bagaimana dengan Jadwal Indonesia?

Focus Features mencantumkan 16 Oktober 2026 sebagai tanggal penayangan Amerika Serikat. Filmnya sudah lebih dahulu beredar di Inggris sejak 25 September. Jadi, perilisan pekan ini bukan penayangan serentak di seluruh dunia.

Jadwal bioskop Indonesia belum berhasil dikonfirmasi dari sumber yang diperiksa. Tanggal streaming untuk versi baru ini juga belum diumumkan secara pasti. Pastikan judul, tahun, dan pemerannya sesuai ketika mencari informasi, karena Sense and Sensibility mempunyai beberapa adaptasi berbeda.

Daya tarik versi Oakley terletak pada pertanyaan yang sederhana: apakah orang yang paling dekat dengan kita juga benar-benar memahami kita? Elinor dan Marianne tidak hanya mencari pasangan. Mereka juga sedang belajar menerima bahwa saudara sendiri bisa melihat dunia dengan cara yang sama sekali berbeda.

← Semua berita