📰 Artikel

Wildwood Segera Tayang, Fantasi Besar dari Boneka Kecil

21 Oct 2026 · oleh Anindya Prameswari
Wildwood Segera Tayang, Fantasi Besar dari Boneka Kecil

Hutan ajaib biasanya membuat kita penasaran dengan makhluk yang tinggal di dalamnya. Namun, Wildwood punya daya tarik tambahan: dunia luas yang terlihat di layar itu dibangun melalui boneka, miniatur, dan gerakan kecil yang direkam satu per satu. Petualangannya boleh terasa besar, tetapi banyak pekerjaannya justru dimulai dari benda-benda yang bisa disentuh.

Film terbaru LAIKA ini memasuki pekan perilisan bioskop Amerika Serikat, dengan jadwal penayangan luas pada 23 Oktober 2026. Wawancara para pembuatnya pada 19 Oktober dan ulasan yang terbit sehari kemudian kembali membuka pembicaraan tentang proses panjang di balik film tersebut. Bukan hanya soal hasil akhirnya, tetapi juga kesabaran yang dibutuhkan untuk membuat dunia fantasi terasa hidup.

Di tengah semua urusan teknis itu, ceritanya berangkat dari tujuan yang sederhana. Seorang kakak ingin membawa adik bayinya pulang. Masalahnya, sang adik dibawa sekawanan gagak ke hutan yang menyimpan dunia lain, lengkap dengan penghuni dan konflik yang tidak pernah ia bayangkan.

Misi Menyelamatkan Adik yang Membawa Prue Terlalu Jauh

Tokoh utamanya adalah Prue McKeel, remaja yang memasuki Impassable Wilderness setelah adik bayinya diculik. Hutan tersebut tersembunyi di luar Portland, Oregon. Bersama teman sekolahnya, Curtis, Prue menemukan tempat yang dihuni hewan berbicara, kelompok bandit, dan sosok-sosok dengan kepentingan berbeda.

Menurut sinopsis resmi, pencarian itu kemudian bersinggungan dengan konflik yang mengancam keseimbangan seluruh hutan. Prue tidak lagi hanya perlu menemukan seseorang. Ia harus memahami siapa yang bisa dipercaya dan bagaimana bergerak di antara persoalan yang sudah berlangsung sebelum kedatangannya.

Premis ini memberi pegangan yang mudah diikuti tanpa harus mengenal bukunya lebih dahulu. Pembaca atau penonton boleh dibuat kagum oleh dunia yang asing, tetapi tujuan Prue tetap jelas. Sebesar apa pun masalah yang ditemuinya, ia berangkat karena ingin menyelamatkan keluarga.

Perjalanan 16 Tahun Bukan Berarti Syuting Selama Itu

Dalam pemutaran perdana di BFI London Film Festival pada 11 Oktober, sutradara Travis Knight menyebut perjalanan Wildwood berlangsung selama sekitar 16 tahun. Angka itu mencakup pengembangan proyek, bukan berarti kamera terus merekam adegannya sepanjang periode tersebut. Produksinya sendiri mulai berjalan pada 2021.

Pembedaan itu penting karena film animasi mempunyai banyak pekerjaan sebelum pengambilan gambar dimulai. Cerita perlu disiapkan, karakter dirancang, dan kebutuhan dunianya diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dibuat serta digerakkan. Semakin besar petualangan yang ingin ditampilkan, semakin banyak pula persoalan praktis yang harus dibereskan.

Knight menjelaskan proses stop-motion sebagai kegiatan memotret objek, menggerakkannya sedikit, lalu memotretnya lagi. Rangkaian itu terus diulang sampai gerakan terbentuk. Adegan yang hanya berlangsung sebentar di layar bisa menyimpan pekerjaan panjang yang nyaris tidak terlihat penonton.

Ratusan Boneka untuk Satu Dunia Fantasi

Laporan Associated Press pada 20 Oktober menyebut Wildwood menggunakan 230 boneka dan 132 set. Angka tersebut memberi gambaran tentang banyaknya elemen fisik yang harus dipersiapkan untuk membangun petualangan Prue.

Yang menarik dari pendekatan ini bukan sekadar jumlah bendanya. Sebuah karakter perlu terlihat seperti penghuni dunia yang sama dengan lingkungan di sekelilingnya. Ukuran, cahaya, bahan pakaian, dan gerakannya harus saling mendukung agar perhatian penonton tetap berada pada cerita.

Bagi yang senang memperhatikan detail film, proses semacam ini menawarkan kesenangan tersendiri. Bukan hanya mencari apa yang terjadi berikutnya, tetapi juga menyadari bahwa tekstur kecil pada sebuah benda merupakan hasil keputusan seseorang. Dunia fantasinya memiliki jejak pekerjaan tangan, bahkan ketika kita tidak sedang memikirkannya.

Para Pembuatnya Membicarakan Keajaiban di Balik Layar

Dalam rangkaian wawancara HeyUGuys yang terbit pada 19 Oktober, pembicaraan tidak berhenti pada pengisi suara. Sinematografer Caleb Deschanel, komposer Dario Marianelli, serta para penanggung jawab animasi, desain produksi, kostum, karakter, dan efek praktis ikut membahas pekerjaan mereka.

Kehadiran berbagai bagian tersebut memperlihatkan bahwa animasi tidak hanya bergantung pada kemampuan menggerakkan boneka. Musik membantu membangun perasaan yang tidak selalu diucapkan karakter. Sementara itu, pencahayaan dan rancangan lingkungan menentukan bagaimana sebuah tempat pertama kali dirasakan penonton.

Wawancara itu juga menyoroti hubungan film dengan Portland, kota yang menjadi bagian dari latar ceritanya. Dunia sehari-hari dan kawasan fantasi tidak ditempatkan sebagai dua hal yang sepenuhnya terpisah. Petualangannya justru bermula ketika sesuatu yang asing muncul dekat dengan kehidupan yang sudah dikenal.

Peyton Elizabeth Lee dan Jacob Tremblay Memimpin Petualangan

Peyton Elizabeth Lee mengisi suara Prue, sedangkan Jacob Tremblay menjadi Curtis. Jajaran pemainnya juga mencakup Carey Mulligan, Mahershala Ali, Angela Bassett, Awkwafina, Richard E. Grant, dan Tom Waits.

Chris Butler menangani skenario yang diadaptasi dari novel karya Colin Meloy dengan ilustrasi Carson Ellis. Jadi, proyek ini mempertemukan dunia yang lebih dahulu dibangun melalui tulisan dan gambar dengan cara bercerita yang mengandalkan gerakan, suara, serta ruang.

Nama-nama besar tentu bisa menarik perhatian, tetapi tugas pengisi suara tetap berbeda dari sekadar membuat penonton mengenali siapa yang berbicara. Yang dibutuhkan adalah karakter yang terasa mempunyai kepribadian sendiri. Prue dan Curtis harus bisa membawa penonton melewati dunia yang penuh tokoh lain tanpa kehilangan kedekatan dengan tujuan awal mereka.

Ulasan Awal Tidak Semuanya Sejalan

Mark Kennedy dari Associated Press memuji keterampilan teknisnya, tetapi menilai cerita Wildwood belum menyamai kekuatan dunianya. Sementara itu, ulasan The Guardian lebih menikmati nuansa petualangan fantasi klasiknya, walaupun tetap membandingkan kedalaman emosinya dengan Coraline.

Perbedaan tersebut berguna untuk menjaga ekspektasi. Pengerjaan yang rumit dan indah belum tentu menghasilkan pengalaman yang sama bagi setiap penonton. Ada yang terutama mencari dunia baru untuk dijelajahi, sementara yang lain membutuhkan hubungan karakter yang kuat agar bisa ikut terbawa.

Karena itu, tanggapan awal lebih tepat dipakai sebagai gambaran, bukan keputusan akhir. Menyebut Wildwood langsung sebagai animasi terbaik tahun ini akan terlalu jauh, terlebih ketika penonton luas baru akan memperoleh kesempatan menilainya.

Jadwal Bioskop dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Fathom Entertainment menetapkan 23 Oktober 2026 sebagai tanggal penayangan luas di Amerika Serikat. Wildwood juga dijadwalkan membuka AFI FEST pada 21 Oktober waktu setempat. Agenda festival tersebut berbeda dari jadwal reguler di seluruh bioskop.

Film ini berdurasi sekitar 132 menit dan mendapat klasifikasi PG-13 di Amerika Serikat, antara lain karena kekerasan fantasi dan materi tematiknya. Jadi, bentuk animasi serta keberadaan hewan berbicara tidak otomatis membuatnya sesuai untuk semua anak kecil. Klasifikasi Indonesia nantinya perlu mengikuti penetapan lokal.

Untuk Indonesia, tanggal dan lokasi penayangan belum dapat dipastikan melalui jaringan bioskop resmi yang diperiksa. Jadwal streaming lokal juga belum terkonfirmasi. Pengumuman Amerika Serikat tidak sebaiknya langsung dipakai sebagai kepastian penayangan di sini.

Wildwood menawarkan dua perjalanan sekaligus: Prue menembus hutan untuk mencari adiknya, sementara para pembuatnya mengubah benda-benda kecil menjadi sebuah dunia. Sekarang tinggal melihat apakah ketelitian di balik layar itu juga membuat petualangannya terasa dekat ketika ditonton.

← Semua berita